Sejak Senin, 25 Agustus 2025, demonstrasi besar-besaran terus terjadi di berbagai daerah. Unjuk rasa yang semula memprotes besaran tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat ini diwarnai insiden meninggalnya Affan Kurniawan (21 tahun), seorang pengemudi online, karena terlindas kendaraan taktis Brigade Mobil (Brimob).
Kematian Affan Menyulut Kemarahan Publik
Tak lama, terjadi berbagai insiden pembakaran fasilitas umum dan penjarahan di banyak kota.
Sejumlah akun di media sosial kemudian memposting seruan agar warga tidak turun ke jalan. Selain alasan keselamatan, banyak akun menganggap demonstrasi sudah ditunggangi pihak yang tak bertanggung jawab, termasuk operasi ‘false flag’—taktik untuk membuat suatu kekerasan terlihat seolah-olah direncanakan dan dilakukan oleh seseorang selain pelaku sebenarnya.
Menurut Wasisto Raharjo Jati, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), gerakan sosial memang sering ditumpangi “penumpang gelap” yang membawa kepentingan politik atau agenda pribadi..
Dalam aksi seminggu terakhir, contohnya, distraksi muncul dalam bentuk pengalihan fokus dari melawan DPR menjadi melawan aparat, penjarahan dan perusakan fasilitas umum oleh orang-orang bayaran, ajakan untuk menyerang warga minoritas hingga aksi silaturahmi ke rumah keluarga Affan.
Di tengah maraknya distraksi, masyarakat perlu mengarahkan energi kolektif pada tuntutan sebenarnya. Kita juga perlu lebih mahir mengidentifikasi siapa saja yang terlibat dalam suatu aksi.
Melawan narasi-narasi palsu, warga perlu memiliki tingkat pemahaman yang lebih atas isu dan tuntutan yang tengah diusung, termasuk soal kemungkinan munculnya para freerider yang justru menjauhkan kita dari misi semula.
Mari saling menjaga, demi panjangnya umur demokrasi kita!
Hayu Rahmitasari (Education & Culture Editor)
BACA Selanjutnya: Demonstrasi Massa di Pati: Tanda Suara Rakyat Tak Pernah Mati
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2025









