Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menekankan bahwa QS. 2 (Al-Baqarah) ayat 183 adalah perintah puasa Ramadhan yang dikhususkan bagi orang beriman untuk mencapai ketakwaan.
Surat Al-Baqarah Ayat 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Puasa atau Shaum bulan Ramadhan telah termasuk salah satu dari lima Rukun (tiang) Islam.
Puasa juga telah diperintahkan kepada orang-orang terdahulu. Orang Hindupun mempunyai puasa, demikian pula penganut agama Budha Bikshu (pendeta Budha) berpuasa sehari semalam, dimulai tengahari tetapi boleh minum. Dalam agama Mesir purbakalapun ada juga peraturan puasa, terutama atas orang-orang perempuan.
Di dalam Surat Maryam kita lihat bahwasanya Nabi Zakaria dan Maryam, ibu Nabi Isapun mengerjakan puasa. Selain menuruti peraturan tidak makan dan tidak minum dan tidak bersetubuh (bagi Nabi Zakaria), berpuasa juga dari bercakap.
Di ujung ayat diterangkanlah hikmah perintah puasa itu, yaitu: “Supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (ujung ayat 183).
BACA Juga: Seruan Ibadah Shaum untuk Orang Beriman
Dengan puasa orang beriman dilarang makan dan minum dan dilarang bersetubuh, ialah karena hendak mengambil faedah yang besar daripada larangan itu. Yang pertama ialah latihan mengendalikan diri, Kalau di segala waktu dilarang memakan makanan yang haram, maka di dalam bulan puasa makanan yang halalpun dilarang.
Yang kedua; Orang yang beriman dapat menahan nafsunya karena melaksanakan perintah Allah. Walaupun dia sering terpencil seorang diri, tidak seorang juapun manusia melihatnya, namun dia tetap berpuasa, sebab percayanya bahwa Tuhan selalu melihat. Dengan demikian orang mu’min mendidik iradat atau kemauan dan dapat mengekang nafsu.
Ada dua syahwat yang sangat mempengaruhi hidup, yaitu syahwat faraj atau sex, dan syahwat perut. Kalau keduanya ini tiada terkendali, bisalah kemanusiaan manusia menjadi runtuh dan turun bertukar menjadi kebina fangan. Tetapi apabila dapat dikendalikan dengan puasa, kemanusiaan tadı akan naik tingkatnya.
Kesabaran menahan adalah nilai yang amat penting bagi keteguhan jiwa. Sebab itu maka bersabda Nabi kita s.a.w:
الصيَامُ نِصْفُ صَبْرٍ ( رواه ابن ماجه )
“Puasa adalah separoh dari sabar “(Dirawikan oleh Ibnu Majah).
BACA Juga: Khutbah Jumat: Meningkatkan Ketaqwaan Melalui Puasa Ramadhan dan Amal Shaleh
Kalau di ayat ini diterangkan maksud puasa ialah untuk membina takwa, maka bagi mereka (luar Islam) ialah menyiksa diri yang dinamai raga dan juga untuk mematikan kehendak kehendak. Karena menurut mereka, selama raga ini masih kuat teguh, selama itu pula terhambatlah nyawa mencapai kenaikannya ke derajat yang tinggi, yang oleh penganut Budha disebut nirwana. Budha Gautama sendiripun pada mulanya berpendirian demikian, sehingga satu waktu raganya menjadi kurus-kering seketika dia bersemadi di bawah pohon bodhi.
Dalam kalangan Nasranipun dipandang kehidupan yang lebih suci murni jika orang tidak kawin (celibat). Artinya puasa terus-menerus daripada hu bungan kelamin. Kadang-kadang pengaruh-pengaruh yang demikian masuk juga ke dalam kalangan kaum Shufi dalam Islam, sehingga Imam Ghazali sendiri pernah memujikan orang yang tidak kawin. Sebab berkeluarga bisa jadi me lemahkan ‘azam buat menuju thariq (jalan) kepada mencapai fana.
Maka apabila kembali pada maksud ayat ini yaitu diperintahkan puasa supaya kamu bertakwa, dapatlah difahamkan jalan tengah yang dikehendaki Islam dengan puasa. Sebulan penuh mereka disuruh berpuasa dari waktu fajar sampai waktu maghrib menahan makan dan minum, menahan bersetubuh dan mengendalikan diri dalam berdakap, melihat dan mendengar serta memperbanyak ibadat. Dan tempat mereka bertanggungjawab adalah semata-mata Tuhan Allah.







