Oleh: Iyus Khaerunnas Malik
sukabumiNews – Hampir semua cerita tentang ibadah haji berkutat pada “kesan” bukan “pesan”. Coba dengar cerita jamaah haji sekembalinya dari Makah. Euphoria suasana saat berada di Makah dan Madinah, pesona ruhiyah yang menguras air mata, dari mulai miqat, proses ihram, melafalkan talbiyah, tiba di Mekah; Melakukan tawaf, sa’i lalu wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, jumroh di Mina, tahallul dan dilanjut dengan menyembelih hewan qurban, melepas kain ihram, dan diakhiri dengan tawaf ifadah.
Lalu bergerak ke Masjid Nabawi di Madinah, ke Raudhoh untuk beziarah ke makam Nabi SAW, seterusnya ke Baqi, Badar, Uhud, dan situs situs sejarah lainnya. Sungguh memukau dan indah luar biasa tak terwakili dengan kata-kata, secerewet apa pun mulut kita, hanya bertaburan kata masyaAllah, subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illa Lloh, Allahu Akbar.
Keindahan ini selalu jadi marketing pengelola bisnis travel umroh dan haji yang telah menjadi “industri” wisata ruhani. Syah dan halal secara binis terlebih mempermudah orang untuk beribadah ke Baetullah, meski harus diberi beberapa catatan.
Namun terbersit pertanyaan dalam pikiran, cukupkah hanya “kesan” yang didapatkan dalam ibadah haji, lalu bagaimana dengan kesinambungan “pesan” yang merujuk pada spirit perjuangan Nabi Ibrahim a.s. dengan putranya, Nabi Ismail AS?
Alfaqir sedikit berbagi cerita, semasa kuliah dulu di IAIN Jakarta (1991, sekarang UIN), sempat melakukan penelitian sejarah di Pulau Onrust, deretan Kepulauan Seribu. Pulau Onrust di masa penjajahan Belanda adalah tempat karantina jamaah haji Nusantara sekembalinya dari Makah. Mereka dicek kesehatannya khawatir membawa penyakit epidemik. Kemudian diwawancara (semi introgasi) untuk mendeteksi pahaman yang mereka bawa karena situasi di Jazirah Arab saat itu sedang gegap gempita dengan pemikiran revolusioner yang dibawa oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Albana dst tentang spirit pembebasan dan kemerdekaan bangsa-bangsa muslim di seluruh dunia disertai seruan jihad melawan kaum kafir penjajah.
BACA Juga: Otoritas Bandara Madinah Sita 9 Koper Jemaah Haji Indonesia Berisi Ini!
Bila ada jamaah haji bersimpatik atau terpengaruh dengan pahaman revolusioner tsb dan dianggap dapat membahayakan posisi Pemerintah Kolonial Belanda, boleh jadi ditahan berbulan-bulan, bahkan ada yang dieksekusi & disuntik mati. Maka demi mempermudah pemantauan dan pengawasan diberilah gelar “HAJI” yang disimbolkan dengan “PECI PUTIH”.
Memang benar perlawanan daerah kepada Pemerintah Kolonial Belanda saat itu rata-rata dikomandoi oleh para haji. Seperti KH. Arsyad Thawil Al-Bantani (pimpinan pemberontakan petani Banten, 1888), dibantu oleh H. wasid, H. Haris & H. Tubagus Ismail, bahkan Mama Falak Pagentongan Bogor pun terlibat dalam perjuangan.
Di wilayah Tasik ada KH. Zaenal Musthofa yang melawan Jepang dan Belanda dengan amat heroik. Demikian juga para pendiri negeri ini seperti H. Omar Said (HOS) Tjokroaminoto (Pemimpin Sarekat Islam), gurunya Sukarno dan para tokoh founding father lainnya, rata-rata bergelar “haji”. Di Bogor sendiri ada KH. Abdullah bin Nuh dan KH. Sholeh Iskandar, dsb.
Kenapa para “haji” menjadi penggerak utama (avant garde; ujung tombak) perlawanan terhadap kaum penjajah? Boleh jadi karena pepatah;
حب الوطن من الإيمان
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman”
Pun disebabkan pengalaman ibadah haji yang dilandasi pahaman utuh & paripurna tentang sosok Ibrahim AS. beserta orang-orang yang menyertainnya dalam membangun peradaban tauhid dan kontra terhadap isme atau pahaman THOGUT yang berkubang kesesatan, kesyirikan dan kekufuran.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sungguh, telah ada suri tauladan yang baik (dan indah) pada sosok Ibrahim beserta orang-orang yang membersamainya, ketika mereka menyeru kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran) kalian, dan telah nyata garis embarkasi antara kami dan kalian; permusuhan dan kebencian selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah saja”. (Q.S. 60: 4)
BACA Juga: Haru! Partinem Kasijo, Jemaah Haji Penyandang Disabilitas Ini Senang Tiba di Madinah
Secara umum “pesan-pesan” ibadah haji yang mesti menginternal dalam pikiran dan ruhiyah kita;
1. Membangun peradaban tauhid dan kontra terhadap segala bentuk pahaman thogut yang berjibaku dalam syirik, kufur, sesat dan menyimpang.
- Ikhtiar berjuang tanpa lelah, seperti Hajar mencari air (SA’I) untuk bayi Ismail, yang akhirnya menyemburkan zam zam, dan hingga hari ini airnya mengalir tanpa henti (gambaran amal jariyah untuk maslahat umat sepanjang masa).
- Teruslah begerak menuju Allah, kapanpun dan dimana pun, dalam upaya mencari ridhoNya, gambaran thawaf mengelilingi Kabah (37:9 & 29:26)









