“Sembelihlah dirimu sebelum sembelih Qurbanmu”

Qurban | Foto: Edward Ricardo

Oleh: Iyus Khaerunnas Malik

‎sukabumiNews – JUDUL di atas adalah bahasa metafora, penggambaran sesuatu yang bukan sebenarnya demi mendapatkan makna yang mendalam dan elaboratif terkait sembelihan hewan qurban.

Hal tersebut mengandung makna spiritual yang mendalam, yaitu pentingnya introspeksi diri dan pemurnian jiwa sebelum melaksanakan ibadah kurban. Ibadah kurban, meskipun berupa menyembelih hewan, lebih dari sekadar ritual. Ini adalah simbol persembahan, pengorbanan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

‎Hewan qurban adalah objek sembelihan yang terlihat secara nyata berupa domba, kambing, sapi, kerbau atau unta. Dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau urunan, semisal seekor sapi oleh 7 orang. Namun ingatlah bahwa wujud yang nyata awal mulanya digerakan oleh sesuatu yang tak terlihat, tak kasat mata (ruang batiniah/qolbu) yaitu niat, motivasi, keyakinan, ketaatan, keikhlasan, kepasrahan. Albert Einsten menyebutnya dengan hukum kekekalan energi (seperti pribahasa, “dimana ada kemauan, di situ ada jalan”). Karena itu sebelum menyembelih hewan qurban, maka “sembelihlah” dirimu!.

‎Mengapa diri ini harus “disembelih” sebelum menyembelih hewan kurban. Tentu bukan diartikan secara fisik (bunuh diri, namanya!) tapi spritual. Kita harus menyembelih sifat egois, kikir, bakhil, pelit, mereket jahe, buntut kasiran dsb. Sebab dengan sifat-sifat itulah manusia enggan untuk berzakat, berinfaq, bersedekah, jariyah, hibah dan qurban. Meski kita mampu membeli seekor sapi (15-20jt) atau seekor kambing (3-5jt) tetap saja berkelit dengan berbagai macam alasan. Dia tak akan mampu menyembelih hewan kurban karena belum bisa “menyembelih” dirinya sendiri. Allah berfirman:

‎وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ …

Read More

Artinya: …Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu (terlalu kikir)… (qs. 17: 29)

Harta yang kita miliki harus ‘disembelih’

‎Secara umum harta yang kita miliki harus disembelih yakni dikeluarkan zakatnya 2,5% (sarat haul & nishob) atau dengan cara berinfak, bersedekah, jariyah, hibah, hadiah, wakaf dll. Sebab bila tidak justru hartamu itulah yang akan “menyembelih” kamu, dipaksa keluar dengan cara tak diduga; terkena sakit parah, musibah, kebakaran, hilang, dicuri orang, dirampok, dibegal dsb.

‎Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan;

‎فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء …

Artinya: Sesungguhnya sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala (termasuk penyakit). Bahkan, sekalipun dari orang yang ahli maksiat, zalim, maupun kafir. Melalui sedekah yang mereka lakukan, Allah angkat bala… (Jami’ Al-Fiqh, 3: 7).

BACA Juga: Khutbah Idul Adha: Hikmah Idul Kurban dan Tragedi Genosida di Palestina

Konsep “sembelihan” ini memang ada yang berobjek kasat mata, ada juga yang tak kasat mata. Yang kasat mata atau “sesuatu” yang tampak wujudnya, seperti hewan qurban tadi, termasuk harta benda yang kita miliki (uang, aset tanah, rumah, kendaraan dsb). Sedangkan yang tak kasat mata antara lain, seperti WAKTU. Dalam satu hari ada 24 jam. Dalam 1 jam ada 60 menit. Dalam 1 menit ada 60 detik. Bagaimana menyembelih waktu? Ingat sabda Nab SAW;

‎ ثُلُثٌ لِرَبِّكَ وَثُلُثٌ لِنَفْسِكَ وَثُلُثٌ لِأَهْلِكَ

Artinya: Sepertiga untuk Rabbmu (Allah), sepertiga untuk dirimu, dan sepertiga untuk keluargamu.’ (HR. Timidzi)

‎Ingat waktu sendiri punya rumus dan karakter … Tak bisa diulang, tak bisa ditabung, tak bisa dipindahkan, dan tak bisa dibeli.

‎Pernah dengar ada orang menabung waktu? investasi waktu yang kapan saja dapat diambil, misalnya saat mau mati! tiba-tiba ingat masih ada tabungan waktu, lalu diambil & diinstal ke dalam tubuhnya sehingga dapat menikmati hidup sesuai jumlah rekening waktu yang dia miliki. Mungkinkah?

‎Atau seorang suami kasihan melihat istrinya terbaring sakit, bahkan sudah divonis oleh dokter umurnya tinggal beberapa hari lagi, lalu sang suami memindahkan sebagian umurnya untuk sang istri tercinta supaya tetap hidup. Bisakah?

‎Atau kita yang sibuk kerja butuh waktu tambahan lalu datang ke penyedia layanan tambahan waktu dengan membayar perjam, perhari, perbulan, pertahun dst harga sekian sekian. Adakah?

‎Mustahil ada meski akhir-akhir ini sering mendengar istilah teleportasi, ilmu memecah raga, menjelajah waktu (seperti film time tunnel, lorong waktu dsb). Kalau pun ada, masuk kategori…

‎خوارق العادة

“Sesuatu di luar kebiasaan/kelaziman” semisal karomah kepada para wali (?), atau yang sudah jelas & nyata yaitu mukjizat kepada para Nabi & Rasul; paling fenomenal dan spektakuler adalah kisah ISRO MI’RAJ Rasulullah SAW dari masjidil haram ke masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidrotul Muntaha. Tentu seizin Allah Azza wa Jalla.

‎Jadi “Sembelihlah Dirimu Sebelum Sembelih Qubanmu” adalah metafora, penggambaran bahwa manusia harus mampu membuang dan mengenyahkan sifat-sifat negatif dalam dirinya, baru akan muncul sifat-sifat kebaikannya. Seperti firman Allah dalam qs. 11 : 17, bahwa emas yang kita temukan semula bercampur dan ketutup dengan bahan material lain, kemudian digodok dengan api yang sangat panas barulah tersingkap emasnya, bersamaan dengan menguapnya bahan material lain yang tidak bermanfaat. Intinya sifat baik mustahil bersatu dengan sifat buruk, seperti ucapan Nabi SAW;

‎لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

Artinya: Tak mungkin bersinergi antara sifat bakhil (kikir) dan iman di dalam hati seorang hamba selama-lamanya. (HR. Tirmidzi)

‎‎Yuk kita jadikan sifat bakhil, kikir, pelit, medit, mereket jahe, buntut kasiran sebagai MUSUH BERSAMA (common enemy) dan harus “disembelih”, dengan cara berzakat, berinfak, bersedekah, jariyah, hibah, wakaf, termasuk dengan berqurban ini, karena itu merupakan tanda sebagai mukmin yang sejati. Terlebih Alquran sudah mengingatkan bahwa tak mungkin dipisahkan antara iman dengan amal saleh, sholat dengan zakat, termasuk sholat dengan berqurban (surat Al-Kautsar). Semoga kita selalu dibimbing oleh Allah on the track di jalan kebenaran & kebaikan (shirotol mustaqim), Aamiin Yaa Rabbal-aalamiin.

BACA Juga: Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban?

‎Wallahu a’lam!‎

Penulis adalah Pengasuh Bumi Tafakur Cibalung, Cijeruk Bogor.

Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.

COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2025


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Redaksi sukabumiNews

Daftar atau

Related posts