Dalam jangka panjang, perlombaan senjata bukan hanya meningkatkan risiko perang, tetapi juga memperdalam ketimpangan global, karena negara-negara berkembang harus menanggung dampak ekonomi dan politik dari instabilitas global.
BACA Juga: Iran Tegaskan Tidak Ada Pengayaan Uranium untuk Kembangkan Nuklir
Meskipun berakhirnya New START memperburuk ketegangan, situasi ini juga dapat menjadi momentum untuk membangun arsitektur keamanan baru yang lebih inklusif. Perjanjian di masa depan mungkin perlu melibatkan lebih banyak aktor, termasuk Tiongkok dan kekuatan nuklir lainnya.
Namun, keberhasilan diplomasi semacam itu sangat bergantung pada kemauan politik dan tingkat kepercayaan antarnegara—dua hal yang saat ini berada pada titik rendah.
Dengan demikian, berakhirnya New START berpotensi mempercepat erosi stabilitas strategis global, meningkatkan ketegangan kawasan, terutama di Eropa dan Asia-Pasifik serta melemahkan rezim non-proliferasi internasional. Tanpa mekanisme transparansi dan pembatasan, risiko perlombaan senjata dan salah perhitungan militer meningkat secara signifikan.
Bagi kawasan-kawasan yang berada di antara rivalitas kekuatan besar, termasuk Asia Tenggara, situasi ini menuntut diplomasi yang lebih aktif dan strategi keamanan yang adaptif. Jika tidak dikelola dengan baik, berakhirnya New START bukan hanya menjadi isu bilateral Amerika Serikat–Rusia, tetapi ancaman sistemik terhadap perdamaian global.
BACA Juga: Dede Farhan Aulawi Ingatkan Pentingnya Menjaga Soliditas dan Sinergitas TNI-Polri
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2026



