Padahal, keluarga adalah madrasah pertama peradaban. Bila ibu kehilangan kemuliaannya, maka rahayu akan pudar. Bila bapak runtuh wibawanya, maka darajat akan goyah. Dan bila keduanya sama-sama diabaikan, maka anak akan tumbuh dalam kekosongan. Mungkin pandai, tetapi mudah rapuh; mungkin berani, tetapi miskin adab; mungkin modern, tetapi tercerabut dari akar kemanusiaannya.
Di sinilah ungkapan “Indung Tunggul Rahayu, Bapa Tangkal Darajat” menemukan relevansinya yang paling mendesak. Ia hadir sebagai kritik halus terhadap zaman yang terlalu bising oleh ambisi, tetapi miskin penghormatan kepada sumber kehidupan.
Ia mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, selebat apa pun gelar di belakang namanya, semua itu tak akan utuh bila ia gagal memuliakan perempuan yang telah melahirkannya dan laki-laki yang telah menopang hidupnya.
Karena itu, ungkapan “Indung Tunggul Rahayu, Bapa Tangkal Darajat” pada hakikatnya bukan sekadar petuah Sunda. Ia adalah wasiat peradaban. Ia adalah pengingat bahwa bila ibu menjadi cahaya rahayu dan bapak menjadi penyangga darajat, maka rumah akan melahirkan manusia-manusia yang bukan hanya sukses, tetapi juga teduh jiwanya, tinggi akhlaknya, dan selamat hidupnya.
Jakarta, April 2026
Penulis adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Amalikasyari
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2026







