sukabumiNews, NEW YORK – Amerika Serikat telah kehilangan peralatan militer dengan nilai hampir 2 miliar dolar AS (sekitar Rp33,7 triliun) di tengah operasi militernya terhadap Iran sejak Sabtu (28/2), menurut estimasi dan data yang dihimpun oleh Anadolu.
Dilansir ANTARA, Kamis, 5 Maret, Anadolu mencatat penyumbang utama besarnya biaya tersebut adalah sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 milik AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, senilai 1,1 miliar dolar AS (sekitar Rp18,6 triliun).
Sistem tersebut terkena serangan rudal Iran pada Sabtu lalu, dengan Qatar mengonfirmasi radar tersebut terkena serangan dan mengalami kerusakan.
Pada Minggu (1/3), tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle hilang akibat insiden salah tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Meski keenam awak selamat, pesawat-pesawat tersebut hancur. Biaya penggantiannya diperkirakan mencapai 282 juta dolar AS (Rp4,7 triliun).
BACA Juga: Ketua MUI: Trump Serang Iran, Waktunya Indonesia-negara Muslim Keluar dari BoP
Kemudian, dalam serangan pembuka pada Sabtu, Iran juga menghantam markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, yang menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta beberapa bangunan besar.
Berdasarkan laporan intelijen sumber terbuka, terminal SATCOM yang menjadi sasaran diidentifikasi sebagai AN/GSC-52B dan diperkirakan bernilai sekitar 20 juta dolar AS (Rp337 miliar), termasuk biaya penempatan dan instalasi.
Iran juga mengklaim telah menghancurkan komponen radar AN/TPY-2 dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik THAAD (ABM), yang ditempatkan di Kota Industri Al-Ruwais, Uni Emirat Arab.
Citra satelit dari laporan intelijen sumber terbuka menunjukkan adanya serangan. Nilai komponen radar yang hancur tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS (Rp8,4 triliun).
Jika digabungkan, Iran telah merusak aset militer AS di kawasan tersebut senilai sekitar 1,902 miliar dolar AS (Rp33 triliun).
Sejauh ini, Iran telah menargetkan sedikitnya tujuh lokasi militer AS di Timur Tengah sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran.
BACA Juga: Jika Iran Memblokir Selat Hormuz, Apa Dampaknya, dan Negara Mana yang akan Paling Terpengaruh?
Tujuh lokasi itu yakni markas Armada Kelima AS di Bahrain,Camp Arifjan,Pangkalan Udara Ali Al Salem,Camp Buehring di Kuwait,Pangkalan Erbil di Irak,Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab yang merupakan pelabuhan persinggahan terbesar Angkatan Laut AS di Timur Tengah,serta Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Selain pangkalan militer, misi diplomatik AS di Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat juga menjadi sasaran serangan.
Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, terkena dua serangandrone. Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan “kebakaran terbatas dan kerusakan kecil material”pada kompleks tersebut. Menurut The Washington Post, Stasiun CIA di dalam kompleks itu juga terkena dampak.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Kuwait City, Kuwait, diserang dengandronedan rudal yang digambarkan sebagai serangan “brutal”oleh pejabat Kuwait.
Asap dilaporkan terlihat di dekat kompleks, sementara rincian kerusakan masih terbatas dalam laporan publik. Kedutaan kemudian ditutup “hingga pemberitahuan lebih lanjut”dan staf non-esensial beserta keluarga mereka telah dievakuasi.
Konsulat Jenderal AS di Dubai, UEA, terkena serangandroneyang diduga milik Iran dan menghantam area parkir di dekat gedung konsultan. Kebakaran sempat terjadi namun segera dipadamkan oleh otoritas setempat. Area konsulat mengalami dampak, tetapi tidak ada kerusakan struktural besar yang dilaporkan.
BACA Juga: Khamenei dan 7 Pejabat Tinggi Iran Gugur Dalam Serangan AS-Israel
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.







