Mengapa Skrining Kanker Payudara Penting bagi Wanita Usia 60 Tahun ke Atas
sukabumiNews (Kesehatan) – Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum didiagnosis pada wanita, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Wanita yang berusia 60 tahun ke atas sangat disarankan untuk melakukan skrining kanker payudara secara rutin, terutama melalui pemeriksaan mamografi.
Statistik menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 8 wanita akan terdiagnosis kanker payudara selama hidup mereka, dan peluang ini terus meningkat setelah usia 60 tahun.
Sebuah artikel berjudul “Pemeriksaan payudara: Jangan sangka usia 60-an dan 70-an tak perlu mamogram”, yang ditulis salah satu media Malaysia, Astro Awani, Sabtu 18, Oktober 2025, menyebutkan bahwa Oktober identik dengan Pinktober. Hal ini menjadi pengingat bahwa skrining kanker payudara bukan hanya untuk perempuan muda atau paruh baya.
Menurut Konsultan Radiologi dari Rumah Sakit Prince Court, Dr. Sumithra S. Ranganathan, banyak perempuan Malaysia berusia 60 tahun ke atas masih merasa tidak lagi berisiko terkena kanker payudara karena mereka telah hidup lama tanpa masalah tersebut.
“Saya sering mendengar wanita berusia 60-an, 70-an, bahkan 80-an berkata, ‘Saya belum pernah punya masalah payudara sebelumnya, jadi saya merasa aman.’ Padahal, anggapan itu salah. Kami telah merawat pasien kanker payudara berusia 80-an dan bahkan 90-an. Usia bukanlah jaminan terlindungi dari kanker payudara,” jelasnya.
Dr. Sumithra menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa wanita lanjut usia enggan menjalani mammogram secara teratur. Alasan-alasan ini antara lain kehilangan tunjangan kesehatan perusahaan setelah pensiun, merasa “bebas risiko” karena tidak pernah mengalami masalah payudara, merasa takut atau tidak nyaman dengan prosedur mammogram, dan keyakinan keliru bahwa jaringan payudara menjadi kurang padat setelah menopause.
“Ada juga yang khawatir tentang radiasi atau tidak tahu di mana bisa mendapatkan skrining dengan harga terjangkau,” ujarnya. “Sayangnya, sikap menunda skrining ini membuat kanker baru terdeteksi ketika sudah berada pada stadium yang lebih serius,” tutur dia.
Mammogram tetap menjadi metode terbaik
Menurut Dr. Sumithra, mammogram adalah pemeriksaan sinar X pada payudara yang dapat mendeteksi mikrokalsifikasi, yang merupakan tanda awal perubahan sel abnormal, sebelum benjolan dapat dirasakan melalui sentuhan.
Ia menjelaskan bahwa setelah menopause, kepadatan payudara menurun dan menjadi lebih berlemak, sehingga gambar mammogram lebih jelas untuk mendeteksi kelainan apa pun. Ultrasonografi juga digunakan untuk membantu mengonfirmasi temuan tertentu, misalnya untuk membedakan apakah bayangan pada mammogram merupakan jaringan padat atau kista.
Jika terdapat kelainan, pasien akan dirujuk ke dokter bedah payudara untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan bila diperlukan akan dilakukan biopsi untuk mengetahui apakah sel tersebut jinak (nonkanker) atau kanker.
Teknologi mammogram semakin maju dan nyaman
Peralatan mammogram kini jauh lebih modern dibandingkan dua dekade lalu. Mesin digital baru lebih cepat dan nyaman, dan beberapa pusat bahkan menawarkan mammogram 3-D (tomosintesis) yang meningkatkan deteksi dan mengurangi ingatan, terutama pada payudara padat. Atau mamografi dengan kontras yang menggunakan pewarna khusus untuk menyorot area yang mencurigakan,” jelas Dr. Sumithra.
Ia menambahkan bahwa proses penekanan payudara hanya membutuhkan beberapa detik dan tingkat radiasinya rendah, masih dalam kisaran aman. Sebagian besar hasil yang terdeteksi melalui skrining tidak bersifat kanker atau masih dalam tahap prakanker, yang dapat diobati sebelum menjadi serius.
Risiko meningkat seiring bertambahnya usia
Dr. Sumithra menekankan bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko utama kanker payudara.
“Benjolan dengan diameter satu hingga dua milimeter terkadang dapat dirasakan, namun sering kali saat benjolan tersebut sudah cukup besar untuk dirasakan, benjolan tersebut sudah membesar. Mammogram dapat mendeteksi perubahan-perubahan kecil ini sejak dini dan itulah keuntungan dari skrining dini,” jelasnya.
Ia merekomendasikan agar wanita berusia 40 tahun ke atas menjalani mammogram setiap dua tahun, kecuali bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara, yang dalam hal ini mammogram direkomendasikan setiap tahun. Jika perlu, mereka disarankan untuk memulai skrining lebih awal atau menambahkan tes lain seperti USG atau MRI.
Di Malaysia, mammogram digital 2-D berharga sekitar RM250 hingga RM350, sementara mammogram 3-D biasanya berharga antara RM400 hingga RM500 di pusat medis swasta. Bersamaan dengan Pinktober, banyak rumah sakit dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menawarkan paket diskon untuk mendorong perempuan melakukan skrining.
“Jangan biarkan faktor keuangan menghalangi Anda. Ada program bantuan pemerintah dan LSM yang bisa Anda jadikan rujukan,” ujar Dr. Sumithra.
Usia bukan halangan untuk melakukan skrining
Sehubungan dengan Pinktober, Dr. Sumithra mendesak wanita berusia 60 tahun ke atas untuk menjadikan mammogram sebagai bagian dari rutinitas kesehatan tahunan mereka.
“Pinktober bukan sekadar melambaikan pita merah muda; ini adalah pengingat untuk menjaga kesehatan. Buatlah janji temu untuk pemeriksaan mammogram, meskipun Anda merasa sehat karena deteksi dini dapat menyelamatkan nyawa,” tegasnya.
Mammogram tetap penting bahkan setelah pensiun. Dengan kemajuan teknologi yang membuat kanker payudara lebih nyaman, risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia, dan bukti bahwa banyak perempuan masih didiagnosis kanker payudara di usia yang lebih tua, skrining dini harus menjadi prioritas. Pinktober tahun ini diharapkan dapat membuka mata semua perempuan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencegah dan mendeteksi kanker payudara sejak dini.
BACA Juga: Manfaat Daun Mangga dan Cara Mengonsumsinya untuk Kesehatan
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2025.









