“Jika Anda mampu menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar AS per barel, lanjutkan permainan ini,” kata juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) setelah serangan akhir pekan lalu terhadap sejumlah fasilitas energi.
Dilansir dari laman The Guardian, ketegangan geopolitik tersebut juga memicu tekanan besar di pasar saham global. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 6,3 persen pada awal perdagangan Senin di Tokyo, sementara indeks Kospi Korea Selatan merosot 5,9 persen. Indeks ASX 200 Australia juga turun 3,9 persen di Sydney.
Data perdagangan prapasar menunjukkan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street diperkirakan dibuka melemah.
BACA Juga: Modal Asing Kabur dari Indonesia Rp3,79 Triliun Pekan Ini
Harga minyak kembali ke level tiga digit setelah mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19, termasuk lonjakan sekitar 10 dolar AS pada harga minyak mentah Amerika Serikat hanya dalam satu hari perdagangan pada Jum’at.
Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Clayton Seigle mengatakan pasar minyak global menghadapi tekanan besar akibat berkurangnya pasokan. “Defisit sekitar 20 juta barel per hari menghantam keseimbangan pasar minyak global tanpa tanda-tanda perbaikan,” kata Seigle.
Ia menilai sikap Presiden Trump yang menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran membuat penyelesaian konflik dalam waktu dekat menjadi tidak realistis.
Sejak awal tahun, harga minyak telah melonjak tajam dari sedikit di atas 60 dolar AS per barel. Kenaikan terjadi secara bertahap pada Januari dan Februari sebelum meningkat lebih tajam setelah serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran yang mengganggu jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz.
BACA Juga: Donald Trup Ditembak saat Kanpanye Pilpres, Investor di AS Ramai Prediksi Begini
Kekhawatiran krisis pasokan juga meningkat setelah Menteri Energi Qatar memperingatkan bahwa jika konflik terus berlangsung, negara-negara pengekspor energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan produksi dalam beberapa pekan. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak hingga 150 dolar AS per barel.
Fasilitas penyimpanan minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait dilaporkan hampir mencapai kapasitas maksimum. Hal ini berpotensi memaksa penutupan sejumlah ladang minyak jika ekspor minyak mentah tidak dapat dilakukan melalui Selat Hormuz.
Ratusan kapal tanker yang mencoba melintasi selat tersebut juga dilaporkan berhenti setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan “membakar” kapal yang menggunakan jalur perdagangan itu.
Seigle memperingatkan ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah kemungkinan tidak akan kembali normal hingga perusahaan pelayaran dan asuransi merasa kondisi keamanan di kawasan tersebut cukup stabil.
Gedung Putih mempertimbangkan sejumlah langkah darurat, termasuk mengalihkan ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah, menggunakan cadangan minyak strategis Amerika Serikat, serta memperluas skema asuransi pemerintah bagi perusahaan pelayaran. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menutup kekurangan pasokan minyak global yang mencapai sekitar 20 juta barel per hari.
BACA Juga: Petinggi Pertamina Tersangkut Dugaan Korupsi Rp193 T, Ini Modusnya Menurut Kejagung
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2026.







