“Tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,” kata Bhima, dikutip dari Antara.
Bila terjadi pergeseran konsumsi ke solar bersubsidi, Bhima melanjutkan, ada kekhawatiran pasokan bahan bakar tersebut tak mampu memenuhi lonjakan kebutuhan dan tak tertutup kemungkinan terjadi kelangkaan.
BACA Juga: Minyak Dunia Melonjak, Harga BBM Pertamina, Shell, bp, dan Vivo Masih Stabil
Untuk itu, ia berharap pengawasan terhadap solar subsidi ini harus ketat, utamanya di luar Pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik maupun untuk alat-alat berat di sektor pertambahan maupun perkebunan.
Meski begitu, ia menduga kenaikan harga BBM nonsubsidi oleh pemerintah hanya bersifat sementara menyusul harga minyak yang cenderung turun karena menurunnya pula eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Oleh sebab itu, Bhima menyarankan, selain melakukan pengawasan yang lebih ketat, juga diperlukan insentif bagi pelaku usaha yang membeli BBM nonsubsidi. Sebab, beban biaya produksi industri akan bertambah jika membeli BBM nonsubsidi.
“Kemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif (bagi industri) sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik kalau tetap beli BBM yang nonsubsidi seperti Pertamina Dex tadi, sehingga kenaikan beban biaya produksi tidak membuat terjadinya efisiensi atau PHK,” tandasnya.
Ikuti dan dapatkan juga update berita pilihan dari sukabumiNews setiap hari di Channel WahatsApp, Telegram dan GoogleNews.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2026.







